Merak , Info Pelabuhan.Site — Pelabuhan Merak kembali menjadi sorotan setelah ratusan sopir truk menggelar aksi protes akibat antrean panjang kendaraan truk golongan VI. Antrean tersebut dipicu kebijakan pembatasan operasional truk berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri yang diberlakukan untuk pengamanan arus Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.
Puncak aksi terjadi pada Sabtu (27/12/2025). Ratusan pengemudi truk mendatangi Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten untuk meminta penjelasan langsung terkait kebijakan pembatasan yang dinilai tidak sejalan dengan kondisi di lapangan.
Para sopir memprotes penutupan akses masuk Pelabuhan Merak, meski sejumlah dermaga dinilai masih kosong. Mereka menilai kebijakan tersebut diterapkan secara kaku tanpa mempertimbangkan situasi riil operasional pelabuhan.

Situasi sempat memanas ketika massa meminta klarifikasi langsung dari Kepala KSOP Kelas I Banten. Berdasarkan pantauan di lokasi, terjadi aksi saling dorong antara pengemudi truk dan petugas KSOP. Ketegangan meningkat lantaran tidak ada pejabat KSOP yang menemui langsung perwakilan sopir untuk memberikan penjelasan resmi.
Kericuhan pun tak terhindarkan. Saat petugas berupaya memberikan penjelasan, terjadi cekcok yang berujung pada pecahnya kaca kantor KSOP Kelas I Banten, diduga akibat lemparan batu. Aparat keamanan kemudian memperketat penjagaan di sekitar lokasi guna mencegah eskalasi lebih lanjut.

Salah satu sopir truk, Bonar, mengatakan aksi tersebut murni untuk menyampaikan aspirasi. Ia menyebut para sopir datang ke Pelabuhan Merak dengan harapan dapat segera menyeberang.
“Awalnya kami ke sini, katanya jelas jelas dermaga di sini pada kosong , Tapi ternyata bukan macet, malah ditutup. Semua sopir jadi geram ” ujar Bonar
Bonar berharap otoritas pelabuhan segera membuka kembali layanan penyeberangan dengan pola pengaturan yang lebih adil. Menurut dia, pembatasan seharusnya dilakukan melalui sistem kuota kendaraan, bukan penutupan total yang justru memicu kemacetan dan keresahan.
“Kalau memang dibatasi, atur saja berapa unit truk yang boleh masuk. Jangan ditutup total,” katanya
Keluhan serupa disampaikan Rudi, sopir truk pengangkut barang tujuan Palembang. Ia mengaku telah tertahan selama beberapa hari tanpa kepastian jadwal penyeberangan.
“Dari kemarin kita tidak bisa masuk pelabuhan, padahal pelabuhan kelihatan kosong. Kami berharap segera dibuka supaya tidak terjadi kemacetan panjang,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak KSOP Kelas I Banten belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut maupun tuntutan para sopir truk. ( Red )














