Merak — Keributan sempat terjadi di area Pelabuhan dermaga 3 Penyeberangan Merak, Banten, beberapa hari lalu saat proses pemuatan kendaraan ke KMP Trimas Fhadila, Insiden tersebut melibatkan petugas pelabuhan dan sejumlah sopir truk yang kendaraannya tertahan di pintu masuk kapal.Rabu (11/2/2026).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa bermula ketika sebuah truk hendak masuk ke dalam kapal. Namun, pihak kapal menyatakan kapasitas muatan telah terpenuhi sehingga kendaraan tersebut tidak dapat diakomodasi dalam pelayaran tersebut. Selain keterbatasan kapasitas, disebutkan pula adanya ketentuan teknis terkait spesifikasi kendaraan, di mana kapal hanya dapat memuat kendaraan dengan spesifikasi cold diesel sesuai aturan operasional.
Dalam rekaman video yang beredar di kalangan sopir dan pengguna jasa, terlihat seorang petugas berseragam kuning meminta pengemudi untuk memundurkan kendaraan karena dinilai menghambat arus antrean menuju dermaga.
“Kapal ada kapasitasnya. Kalau sudah penuh, ya tidak bisa dipaksakan. Mundurkan dulu kendaraannya,” ujar petugas dalam video tersebut.
Sejumlah pemuda yang diduga merupakan kernet atau perwakilan sopir truk kemudian meminta penjelasan lebih lanjut terkait kepastian antrean serta solusi keberangkatan selanjutnya.
Adu argumen sempat terjadi di lokasi, namun situasi berangsur kondusif setelah beberapa pihak berupaya menenangkan suasana.
Petugas juga mengarahkan pengemudi agar berkoordinasi dengan pengurus lapangan guna menghindari kepadatan di area dermaga yang berpotensi mengganggu operasional kapal lain.
Beredar informasi bahwa kapal yang dimaksud merupakan KMP Trimas Fhadila milik PT ALS. Kepala Operasional PT ALS, Andis, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp, membenarkan adanya ketentuan tersebut.
“Masalah kendaraan yang mau masuk ke kapal, memang diminta kendaraan cold diesel ke KMP Trimas Fhadila,” ujarnya.
Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak operator kapal maupun otoritas pelabuhan terkait kronologi lengkap serta evaluasi atas kejadian tersebut.
Sementara itu, Kepala Pos Pelabuhan Merak KSOP Kelas I Banten, Arwin, saat dikonfirmasi terkait insiden tersebut justru menanyakan sumber informasi yang beredar.
“Ini info dari mana, Bang? Terima kasih infonya,” ujarnya singkat.
Belum diketahui secara pasti apakah insiden ini berdampak pada jadwal keberangkatan kapal. Tidak terdapat laporan korban maupun kerusakan fasilitas akibat kejadian tersebut.
Insiden ini menjadi pengingat pentingnya pengaturan kapasitas muatan serta komunikasi yang efektif antara operator kapal, petugas pelabuhan, dan pengguna jasa penyeberangan, khususnya kendaraan logistik.
Terlebih, peristiwa ini terjadi menjelang persiapan Angkutan Lebaran 2026, di mana volume kendaraan diperkirakan meningkat signifikan. Koordinasi lintas pihak, kepatuhan terhadap ketentuan teknis kapal, serta pengelolaan antrean yang transparan menjadi faktor krusial guna menjaga kelancaran arus penyeberangan Merak–Bakauheni sebagai salah satu jalur logistik dan mudik tersibuk di Indonesia.
Red














