Bakauheni, info Pelabuhan.Site || Lampung — Penerapan budaya keselamatan kerja (K3) yang selama ini digaungkan di lingkungan Pelabuhan Bakauheni kembali menjadi sorotan. Di tengah kampanye intensif terkait penggunaan alat pelindung diri (APD), sejumlah pekerja vendor pada proyek perbaikan dolphin di dermaga 5 justru terlihat mengabaikan aturan dasar keselamatan. Mereka terpantau bekerja tanpa helm dan perlengkapan APD lain yang seharusnya wajib dipakai di area berisiko tinggi. (Jumat 12/12/2025 )

Temuan ini bertentangan dengan prosedur operasional tetap yang selama ini diklaim diterapkan ketat di pelabuhan. Padahal, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) berkali-kali menegaskan bahwa keselamatan merupakan budaya inti yang tidak bisa ditawar, terutama mengingat aktivitas pelabuhan melibatkan pergerakan penumpang, kendaraan, dan operasi kapal dalam skala besar.
Hingga berita ini di Terbitkan, ASDP Indonesia Ferry belum memberikan penjelasan resmi terkait aktivitas pekerjaan tanpa APD tersebut. Upaya konfirmasi yang disampaikan awak media tidak memperoleh respons, sementara pekerjaan di lapangan terus berlangsung.
Kondisi ini menuai perhatian terkait lemahnya fungsi pengawasan dan potensi meningkatnya risiko kecelakaan kerja. Penerapan K3 disebut tak cukup hanya menjadi slogan, tetapi harus dibuktikan melalui disiplin dan penegakan aturan terhadap seluruh pihak yang bekerja di lingkungan pelabuhan ,Komitmen Keselamatan ASDP hanya Di Atas Kertas namun tumpul di lokasi kerja.

Di kutip Dalam siaran pers ASDP Pada 22 Januari 2025, ASDP menegaskan komitmennya menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama. Komitmen itu diwujudkan melalui penandatanganan bersama jajaran manajemen di Kantor Pusat ASDP sebagai bentuk keseriusan perusahaan membangun budaya kerja aman.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menekankan bahwa keselamatan merupakan fondasi keberlanjutan bisnis yang berawal dari kedisiplinan setiap individu. Subtema “Safety Start from Us” yang diusung pada tahun tersebut menegaskan bahwa budaya keselamatan harus tumbuh dari kesadaran personal setiap pekerja.
“Keselamatan adalah pilar utama keberhasilan perusahaan. Ketika setiap insan ASDP menjadikan keselamatan sebagai prioritas, kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga mendukung kelancaran operasional serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Heru dalam siaran pers itu.
Sebagai perusahaan yang menjalankan peran penting dalam mendukung konektivitas nasional, ASDP menegaskan bahwa penerapan K3 di seluruh lini bukan sekadar memenuhi regulasi, melainkan investasi jangka panjang untuk melindungi aset utama perusahaan: sumber daya manusia.
Heru memaparkan tiga pendekatan utama dalam membangun budaya keselamatan yang berkelanjutan. Pertama, menciptakan Just Culture, budaya tanpa saling menyalahkan, sehingga insiden dapat dijadikan bahan pembelajaran. Kedua, mendorong Reporting Culture, yakni pelaporan aktif atas potensi bahaya. Ketiga, membangun Learning & Improving Culture untuk memastikan setiap pengalaman menjadi dasar perbaikan berkelanjutan.
Implementasi Sistem Manajemen K3 (SMK3) juga diperkuat melalui kolaborasi lintas fungsi, mulai dari kantor pusat, cabang, hingga anak perusahaan seperti PT IFPRO dan PT Jembatan Nusantara. ASDP menilai langkah ini penting untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan karyawan.
“Dengan menjadikan keselamatan sebagai nilai inti, kami yakin dapat mendukung keberlanjutan bisnis sekaligus memberikan layanan terbaik kepada masyarakat,” tutup Heru. ( Red )














