Tarakan — Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Tarakan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, memulai rangkaian Uji Kelaiklautan Kapal Penumpang untuk Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Pemeriksaan berlangsung pada Rabu, 19 November 2025, sebagai langkah antisipatif menghadapi meningkatnya mobilitas masyarakat akhir tahun.
Program ini merujuk pada Instruksi Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor IR-DJPL 4 Tahun 2025 serta Surat Keputusan KSOP Tarakan Nomor ST KSOP-Trk 332 Tahun 2025, yang mewajibkan peningkatan pengawasan terhadap seluruh armada kapal penumpang. Pemeriksaan dilakukan oleh Kepala Seksi Status Hukum dan Sertifikasi Kapal bersama tim Marine Inspector KSOP Tarakan.
Uji laik laut dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kondisi teknis kapal, kelengkapan dokumen, kesiapan alat keselamatan, hingga optimalisasi perangkat navigasi. Mesin utama, propulsi, lambung, radar, GPS, hingga radio komunikasi diverifikasi untuk memastikan seluruh sarana berfungsi tanpa celah. Tim juga memberikan pembaruan cuaca maritim kepada nakhoda sebagai langkah mitigasi risiko.
Kapal yang menjadi sasaran pemeriksaan meliputi Kapal Perintis Sabuk Nusantara, kapal ferry Ro-Ro ASDP, kapal cepat internasional Indomaya Tiga rute Tarakan–Tawau, hingga armada speedboat domestik di Pelabuhan Tengkayu I. Uji kelaiklautan dilakukan bertahap hingga seluruh kapal yang melayani masyarakat Kalimantan Utara tuntas diperiksa.
Kepala KSOP Kelas II Tarakan, Stanislaus Wembly Wetik, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pemenuhan administrasi.
“Uji kelaiklautan ini adalah implementasi nyata dari tanggung jawab kami dalam menjamin keselamatan pelayaran. Tidak ada toleransi bagi kapal yang tidak laik laut untuk beroperasi selama masa Nataru,“Keselamatan penumpang adalah prioritas tertinggi.” ujar nya.
KSOP Tarakan juga mengimbau operator kapal dan pengguna jasa transportasi laut untuk mematuhi aturan keselamatan selama masa angkutan Nataru.
“Tanggung jawab keselamatan adalah tanggung jawab kita bersama. Satu nyawa yang terselamatkan adalah keberhasilan kita semua,” kata Wembly. “Kami ingin perairan Tarakan menjadi contoh penerapan standar keselamatan pelayaran yang baik.” ***














