JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendorong seluruh pemangku kepentingan sektor transportasi laut untuk semakin mengoptimalkan pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari upaya memperkuat keselamatan pelayaran nasional.
Direktur Perkapalan dan Kepelautan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, Samsuddin, menegaskan bahwa perkembangan teknologi harus diikuti dengan peningkatan kepatuhan terhadap standar keselamatan di lapangan.
Menurut dia, teknologi tidak hanya berfungsi sebagai perangkat pendukung operasional, tetapi juga dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi dan mengantisipasi berbagai potensi risiko selama pelayaran.
Salah satu aspek yang dinilai penting adalah pemanfaatan informasi cuaca dan teknologi navigasi. Informasi tersebut dapat membantu operator dan awak kapal mengambil keputusan yang lebih tepat ketika menghadapi perubahan kondisi di laut.
Selain teknologi, Samsuddin menekankan pentingnya membangun budaya keselamatan yang berangkat dari kesadaran. Pemeriksaan kapal, penggunaan alat pelindung diri serta pelaksanaan prosedur keselamatan harus dilakukan secara konsisten, bukan semata-mata karena adanya pengawasan atau ancaman sanksi.
Ia juga menyoroti persoalan akurasi data penumpang dan muatan. Setiap orang yang berada di atas kapal harus tercatat secara resmi melalui tiket dan manifest.
Ketepatan manifest menjadi penting ketika terjadi keadaan darurat. Data yang tidak akurat dapat menyulitkan proses pencarian dan pertolongan karena jumlah penumpang maupun korban tidak dapat diketahui secara pasti.
Di sisi lain, keselamatan pelayaran juga membutuhkan kesiapan awak kapal dalam menghadapi situasi darurat. Latihan keselamatan atau drill perlu dilakukan secara rutin, terutama ketika terjadi pergantian personel dalam jumlah cukup besar.
Kesiapan tersebut mencakup kemampuan menghadapi kebakaran, melakukan evakuasi, serta menggunakan peralatan keselamatan secara tepat.
Samsuddin juga mengingatkan bahwa penerapan teknologi harus berjalan beriringan dengan kepatuhan terhadap ketentuan teknis. Dalam kasus kebakaran kapal, misalnya, keberadaan sistem keselamatan seperti sprinkler tidak akan optimal apabila pemasangan atau penempatan muatan menghambat jangkauan sistem tersebut.
Karena itu, keselamatan pelayaran membutuhkan pendekatan menyeluruh yang mencakup teknologi, sumber daya manusia, kepatuhan terhadap standar serta pengawasan operasional.
Kemenhub juga menekankan pentingnya kolaborasi antara regulator, operator kapal, pengelola pelabuhan, awak kapal dan masyarakat pengguna jasa. Seluruh unsur tersebut dinilai memiliki peran dalam menciptakan transportasi laut yang aman.
Dengan penerapan standar yang konsisten dan dukungan teknologi, pemerintah berharap risiko kecelakaan pelayaran dapat terus ditekan. Target mewujudkan pelayaran yang aman dan minim kecelakaan dinilai dapat dicapai apabila seluruh pihak memiliki komitmen yang sama terhadap keselamatan.
Kampanye keselamatan pun diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar diterapkan dalam aktivitas operasional sehari-hari di sektor maritim. ***
















