MERAK — Kemacetan parah yang melumpuhkan Tol Merak pada Sabtu, 27 Desember 2025, berujung pada aksi unjuk rasa ratusan sopir truk logistik di Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten. Para pengemudi menuntut pembukaan akses menuju Pelabuhan Merak setelah berjam-jam terjebak antrean tanpa kepastian. Senin (29/12/25)
Kemacetan yang nyaris tidak bergerak tersebut bahkan memakan korban. Seorang sopir truk dilaporkan pingsan akibat kelelahan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Peristiwa ini mencerminkan beratnya tekanan fisik dan psikologis yang dialami pengemudi logistik, terutama di tengah pembatasan angkutan dan lonjakan arus Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Menanggapi situasi tersebut, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Khoiri Soetomo menyampaikan keprihatinan terhadap pola pengaturan penyeberangan di lintasan Merak–Bakauheni.
“Berdasarkan data dan fakta operasional, kondisi yang terjadi saat ini bukan penyelesaian kemacetan, melainkan pemindahan kemacetan ke lokasi lain yang infrastrukturnya belum siap,” ujar Khoiri, dikutip dari Ocean Week, Minggu.
Khoiri menegaskan, sektor logistik merupakan urat nadi perekonomian nasional yang seharusnya tidak diperlakukan sebagai beban demi menciptakan kesan kelancaran di satu titik tertentu. Menurut dia, kebijakan yang mengorbankan kendaraan barang justru melahirkan apa yang disebutnya sebagai kelancaran semu.
“Mengorbankan kendaraan logistik agar Pelabuhan Merak–Bakauheni terlihat lancar dan tanpa antrean bukan solusi. Itu hanya kelancaran semu yang menutup persoalan sebenarnya,” katanya.
Gapasdap mencatat, persoalan serupa terus berulang setiap musim puncak pergerakan, termasuk pada periode Natal dan Tahun Baru. Meski berbagai masukan telah disampaikan kepada Kementerian Perhubungan, Khoiri menilai masalah struktural di lintasan penyeberangan utama Jawa–Sumatra belum ditangani secara serius.
Di lapangan, antrean panjang, waktu tunggu yang tidak pasti, serta perubahan kebijakan secara mendadak disebut menciptakan tekanan berat bagi para pengemudi. Dampaknya tidak hanya mengganggu distribusi barang, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan para sopir sebagai ujung tombak logistik nasional.
Khoiri turut mengkritik kebijakan pengalihan kendaraan logistik ke Pelabuhan Bandar Bakau Jaya (BBJ) di Bojonegara dan Pelabuhan Ciwandan. Menurutnya, kedua pelabuhan tersebut belum mampu menggantikan peran pelabuhan utama penyeberangan.
“Pelabuhan utama itu Merak–Bakauheni. Bukan BBJ dan bukan Ciwandan,” tegasnya.
Ia menambahkan, lintasan Merak–Bakauheni merupakan simpul strategis nasional yang terhubung langsung dengan Tol Trans Jawa dan Tol Trans Sumatra. Dalam sistem transportasi nasional, jalur ini seharusnya tetap menjadi tulang punggung arus logistik, termasuk saat terjadi lonjakan pergerakan pada periode puncak.
Red














